Koulibaly Klaim Juventus Sebetulnya Takut dengan Napoli

Koulibaly Klaim Juventus Sebetulnya Takut dengan Napoli

Pemain bertahan Napoli, Kalidou Koulibaly, mengklaim jika Juventus sebetulnya takut bersaing bersama kesebelasannya di penghujung kompetisi kemarin.

“Musim lalu kami yakin sampai akhir sebab Juventus takut pada kami serta saat Kamu berpikir jika team takut pada kesebelasan Anda, saya betul-betul bersyukur serta suka sensasi ini,” tutur Koulibaly pada Soccerway.

Napoli pernah menghajar Juventus 1-0 beberapa minggu sebelum turnamen Liga Italia Serie A selesai musim kemarin. Goal semata wayang penentu kemenangan Partenopei dibuat Koulibaly lewat tandukan kepalanya.

Namun begitu, sial untuk Partenopei, mereka lantas terpeleset serta Scudetto menjadi punya Juventus lagi. Walau tidak berhasil, tapi Koulibaly memperoleh banyak sanjungan atas kinerjanya. Bintang dari Senegal malahan menjadi satu dari sekian banyak calon Bintang Paling baik Afrika versi BBC.

“Yang terpenting ialah saya terus berupaya buat tumbuh, hingga saya bisa memperlihatkan pada semua orang jika saya bisa jadi satu dari sekian banyak pemain bertahan paling baik di dunia.”

“Bagiku, saat saya menyarangkan goal, ini betul-betul bahagia. Saya betul-betul mau memenangkan sesuatu bersama Napoli, mereka memberiku tidak sedikit cinta serta keyakinan diri. Saya mau memberi sesuatu kembali untuk mereka serta saya berharap itu bakal jadi tahun Scudetto,” Koulibaly melanjutkan.

Koulibaly sendiri telah memperkuat Napoli semenjak 2014. Dia bermain di 174 laga serta menyarangkan 8 goal.

Ozil Senang Arsenal Bisa Main Cemerlang Lawan Leicester City

Ozil Senang Arsenal Bisa Main Cemerlang Lawan Leicester City

Pemain berposisi gelandang Arsenal, Mesut Ozil, bangga oleh performa yang kesebelasannya perlihatkan di pertandingan kontra Leicester City di pertandingan Liga Inggris, Senin (22/10).

Arsenal sukses unggul bersama score 3-1 vs Leicester City di lanjutan Liga Inggris yang diselenggarakan di Emirates, Senin (22/10), ataupun Selasa malam WIB. Mesut Ozil juga menyatakan jika Arsenal memeragakan performa lain melalui pada umumnya di pertandingan kali ini.

“Saya pikir rombongan saya berlaga gemilang dini hari ini, ” klaim Ozil melewati akun Twitter resmi miliknya. “Bangga dapat jadi kapten dari kesebelasan serta tim ini, ” tutur bintang bernomor punggung sepuluh itu.

Hasil positif atas Leicester menambah rekor bagus Arsenal kampanye musim ini. Arsenal sekarang telah mengoleksi 7 hasil positif berturut-turut pada Liga Inggris. Pasukan Unay Emery duduk pada tempat keempat klasemen sementara Liga Inggris kampanye musim ini.

Arsenal memborong 21 poin, pencapaian melalui 2 hasil negatif serta 7 hasil positif. Mereka menyamai koleksi angka Chelsea namun tengah menerima kekalahan di dalam tertinggal goal.

Catat Presentase Penyelamatan Tertinggi, Kiper Kelahiran Nusa Tenggara Barat Jadi yang Terbaik di Eropa

Catat Presentase Penyelamatan Tertinggi, Kiper Kelahiran Nusa Tenggara Barat Jadi yang Terbaik di Eropa

Penjaga gawang kelahiran kota Mataram, Nusa Tenggara Barat yang memperkuat Sampdoria, Emil Audero Mulyadi secara tidak resmi jadi kiper paling baik di Eropa sekarang menurut rekor presentase penyelamatan.

Diberitakan BolaSport. com melalui IFTV Sepakbola, Emil jadi kiper bersama presentase penyelamatan tertinggi pada Eropa yitu sebesar 87, 5 persen.

Di bawahnya berturut-turut ada Hugo Lloris (Tottenham Hotspur) bersama 86, 67 persen, Alisson Becker (Liverpool) bersama 85, 17 persen, Gianluigi Buffon (Paris Saint-Germain) bersama 83, 33 persen, serta Rui Patricio (Wolves) dengan 82, 67 persen.

Presentase penyelamatan yang tinggi punya Emil pun memperlihatkan barisan defensif solid Sampdoria sampai minggu kedelapan Liga Italia kampanye musim ini.

‎I Blucerchiati baru kemasukan empat goal sepanjang ini serta sekarang bertengger pada peringkat kelima klasemen sementara.

Rekor itu jadi yang paling hebat di Italia. Emil sampai-sampai mengungguli rekor penjaga gawang Juventus, Wojciech Szczesny yang kemasukan lima goal.

Penampilan luar biasa Audero membuat tim nasional U-21 italia memberinya kepercayaan di pertandingan internasional sejak enam September silam.

Di pertandingan terbaru, Emil berhasil menghantarkan tim nasional U-21 Italia mencetak cleansheet serta unggul 2-0 vs tim nasional Tunisia U-21, Senin (15/10/2018).

Tak Adil, Jika Tim nasional Italia Gagal Kalahkan Polandia

Tak Adil, Jika Tim nasional Italia Gagal Kalahkan Polandia

Manajer tim nasional Italia, Roberto Mancini, menyatakan jika Gli Azzurri amat pantas buat menyelesaikan laga UEFA Nations League melawan Polandia dengan meraih satu hasil positif.

Di partai matchday ketiga Grup tiga Liga A UEFA Nations League ini, tim nasional Italia mendapat hasil positif 1-0 di Stadion Slaski, Chorzow, Pekan (14/10/2018) atau Senin dini hari WIB.

1 skor yang memastikan kemenangan tim nasional Italia sukses dibuat oleh Cristiano Biraghi kala pertandingan sudah masuk ke menit ke-90+2.

Selama laga, tim nasional Italia bisa mendominasi permainan dengan 70 persen penguasaan bola.

Di dalam hal kans mencipatakan gol, tim nasional Italia pun dominan vs Polandia dengan membuat 18 kesempatan yang lima di antaranya akurat.

Sedangkan tim nasional Polandia cuma bisa melepas enam tendangan dengan tiga shots akurat.

Berserta daftar statistik itu, manajer Roberto Mancini menyatakan jika tim nasional Italia amat pantas guna mendapat hasil positif di partai itu.

“Kami amat mendominasi laga serta harusnya dapat menyarangkan goal banyak awal. Bakalan tak adil apabila laga itu selesai dengan hasil seri 0-0, ” tutur Roberto Mancini menurut dilansir BolaSport. com melalui Rai Sport.

“Semua pemain sudah berupaya berbuat yang paling baik. Terkadang sepakbola seperti itu, seketika menyarangkan goal di penghujung yang sesungguhnya pantas untuk diraih. Tapi, laga itu pun dapat selesai dengan skor 0-0 sebagaimana pertandingan-pertandingan sebelumnya, ” katanya.

Hasil positif itu merupakan yang pertama untuk tim nasional Italia usai tidak berhasil unggul di dalam lima laga secara berturut-turut.

Hasil positif itu pun menjadikan tim nasional Polandia terpaksa turun kasta menuju Liga B pasca hanya mencatatkan satu angka dari tiga laga serta menerima kekalahan head-to-head dengan Italia.

Sarri: Barkley Layak Dipanggil Kembali Timnas Inggris

Sarri: Barkley Layak Dipanggil Kembali Timnas Inggris

Perkembangan yang dicatat bintang Chelsea, Ross Barkley, membikin manajer Maurizio Sarri percaya jika dia melengkapi syarat guna balik lagi mendapat pinangan tim nasional Inggris.

Barkley mendapatkan perjalanan yang negatif kala mengambil keputusan mendapat panggilan Chelsea di musim transfer pemain pada Januari 2018 silam.

Sebab, Barkley hengkang bersama situasi membekap cedera hamstring serta cuma mengantongi 5 performa bersama Chelsea satu musim lalu.

Cedera itu dia dapat semenjak awal musim kemarin kala tengah berjersey Everton. Tapi, Sarri percaya jika gelandangnya itu sudah memperlihatkan perkembangan yang besar di kampanye musim ini.

“Ia melawan cedera tidak main-main di 2 kampanye musim terbaru, namun dia sudah meningkat hari demi hari serta aku kira performa paling bagusnya bakal datang, ” tutur Sarri dilansir BolaSport. com melalui laman Sky Sports.

Malahan, pelatih dari Italia ini percaya jika Barkley pantas mendapat pinangan juru tak-tik Gareth Southgate guna mengisi tim nasional Inggris.

“Ia berpotensi jadi bintang kuat. Melalui segi kualitas fisik dia amat berpotensi. Dengan cara teknik, dia sedang mengasah kualitas rencananya, ” tutur lelaki 59 musim kelahiran Wilayah Naples itu.

“Ia bakal jadi bintang vital (di kesebelasan ini) serta pun guna tim nasional Inggris, ” tutur Sarri percaya.

Sebastian Giovinci Balik lagi ke Timnas Italia Bukanlah Hal Mengagetkan

Sebastian Giovinci Balik lagi ke Timnas Italia Bukanlah Hal Mengagetkan

Menjelang laga melawan Ukraina serta Polandia dalam durasi terkini, juru tak-tik tim nasional Italia, Roberto Mancini, dengan cara mencengangkan memanggil mantan pesepakbola Juventus yang sekarang memperkuat Toronto FC, Sebastian Giovinco.

Pemanggilan Giovinco menuju ke tim nasional Italia itu merupakan kali pertama di dalam tiga musim paling akhir.

Kali terakhir bintang berjulukan Semut Atom berumur 31 tahun ini tampil memperkuat tim nasional Italia pada bulan Oktober 2015 melawan Norwegia di partai kualifikasi Piala Eropa 2016.

Walau mencengangkan untuk kebanyakan pencinta sepakbola, pemanggilan Giovinco itu tak diberlakukan buat sang agen, Andrea D’Amico.

Malahan Andrea D’Amico menyatakan jika amat mencengangkan menyaksikan Giovinco yang amat cemerlang di Toronto FC tak dipilih masuk tim nasional Italia.

“Apa yang lenyap di kala itu ialah tim nasional Italia, bukanlah Sebastian Giovinco, ” tutur Andrea D’Amico menurut dilansir BolaSport. com dari RMC Sport.

“Permainan ia tak cuma baik di kala itu, namun sebelum mengambil keputusan meninggalkan Italia. Begitu ia gabung ke Toronto serta menghantarkan tim menjuarai piala liga serta main di Liga Champions Amerika Utara, orang-orang terkejut menyaksikan ia tak dipilih tim nasional Italia, ” katanya.

Selama kariernya memperkuat tim nasional Italia semenjak tahun 2011 lalu, Sebastian Giovinco sudah main semaksimal 23 kali dengan raihan 1 goal.

Tim nasional Italia bakal meladeni Ukraina di partai persahabatan pada Selasa (10/10) serta Polandia di turnamen UEFA Nations League pada Minggu (14/10).

Pencapaian seri vs Polandia serta hasil negatif melalui Portugal di 2 pertandingan perdana Liga A Grup tiga UEFA Nations League meneror Italia akan turun kasta menuju Liga B apabila tak bisa mendapat hasil positif di 2 pertandingan berikutnya.

5 Sebab Jose Mourinho Seharusnya Meninggalkan MU

5 Sebab Jose Mourinho Seharusnya Meninggalkan MU

Tak ada yang ragu dengan kualitas Jose Mourinho menjadi pelatih sepak bola. Ia telah terbukti berhasil bareng Porto, Chelsea, Inter serta Madrid.

Tapi, kinerjanya di Manchester United sepanjang ini masih tidak mengesankan. Mourinho sukses memenangkan Liga Europa serta Piala Liga pada kampanye musim perdananya namun itu masih tidak cukup untuk tim seperti Setan Merah.

Pelatih dari Portugal ini tidak berhasil mempersembahkan piala pada musim lalu. Jelang kampanye musim ke 3 nya di Old Trafford, United masih tidak nampak meyakinkan dengan Mourinho.

Kemungkinan United memang seharusnya memikirkan untuk mengganti Mourinho dengan pelatih lainnya yang dapat memberi piala Premier League. Karenanya, kampanye musim selanjutnya dapat menjadi kampanye musim terakhir Mourinho bareng United.

Berikut ini 5 sebab kenapa Jose Mourinho seharusnya meninggalkan Manchester United menurut web Liga Inggris.

Berinvestasi – Mourinho telah mulai melontarkan perang urat saraf pada kompetisi musim ini dengan menyerang pelatih Liverpool, Jurgen Klopp yang mengerjakan jor-joran di bursa transfer musim panas tahun. Liverpool memang mendaratkan pemain-pemain dengan tarif tidak murah namun Mourinho sendiri telah menggelontorkan 392, 55 juta poundsterling untuk belanja pesepakbola semenjak tahun 2016.

Sementara itu, Liverpool telah menghabiskan 411, lima juta poundsterling namun mereka jua mendapat 289, 65 juta poundsterling dari penjualan bintang khususnya Philippe Countinho. Secara hitungan, Liverpool cuma menggelontorkan 121. 9 juta poundsterling untuk belanja bintang.

Di sisi lain, Manchester United cuma memperoleh 85, 3 juta poundsterling dari penjualan bintang serta pengeluaran mereka jauh setingkat lebih tinggi yaitu senilai 307, 25 juta poundsterling. Manchester United tidak mendapat hasil dari investasi mereka hingga ini jadi tanggung jawab dari pelatih.

Peningkatan Wonderkid Terhambat – Dibawah Sir Alex Ferguson, Manchester United tersohor terus meningkatkan para pemain dunia dari akademi ataupun yang dibeli semenjak umur muda. Data dari livescore Liga Inggris, Mourinho memiliki history yang negatif dengan bintang akademi dan wonderkid di seluruh tim yang ditanganinya. Ia setingkat lebih rutin mengandalkan bintang yang telah mapan serta sudah banyak jam terbang di teamnya.

Rashford, Martial, Darmian serta Luke Shaw diistirahatkan untuk bintang yang setingkat lebih tua dan peningkatan mereka terhambat. Mereka merupakan bintang yang bertalenta untuk jadi bintang dengan nama besar serta butuh diberikan peluang berlaga rutin.

Sedikit Piala – Jose Mourinho terus mendesak publik, wartawan serta fans untuk tak meminta banyak pada kampanye musim perdananya serta berharap banyak di kampanye musim ke 2. Ini memang bisa dibuktikan di tim sebelumnya. Tapi, di Manchester United, Mourinho memenangkan Piala Liga serta Liga Europa pada 2016-17 dan ini adalah pencapaian baik namun tidak berhasil total pada kompetisi musim 2017-18.

Masih dari situs berita Liga Inggris yang sama, Mourinho tak memenangkan apapun di kampanye musim 2017-18, tidak berhasil di seluruh turnamen walau telah mengerjakan belanja besar-besaran. Ia nampak kehabisan argumen serta mulai menyalahkan anak asuhnya.

Mourinho tak sekalipun memiliki catatan yang baik saat melakoni kampanye musim ke 3 di sebuah tim. Alhasil senantiasa negatif serta ia ditendang. Mungkin saja Mourinho bernasib begitu juga pada kampanye musim ke 3 nya di Old Trafford.

Tidak Ada Identitas – Jose Mourinho tersohor menjadi pelatih sebab kehebatan strategi serta manajemen permainanya. Ia merupakan pelatih yang yakin akan krusialnya sektor central. Seluruh kesebelasan bimbingannya sebelumnya memiliki identitas. Mereka menggunakan permainan counter attack serta dominasi sektor center.

Di Manchester United, tak tersedia gaya seperti itu. Apabila menyaksikan Manchester City bimbingan Josep Guardiola ataupun Liverpool besutan Jurgen Klopp ataupun malahan Arsenal pada jaman Arsene Wenger, mereka berencana permainan serta gaya performa. Untuk ulasan lengkapnya klik link berikut ini.

Di Manchester United, tak tersedia gaya yang sama dengan kesebelasan Mourinho sebelumnya. Hal tersebut membikin bintang-bintang kebingungan serta memiliki imbas pada hasil di gelanggang.

Manajemen Superstar – Mourinho memperlakukan bintang kayak Marcus Rashford serta Anthony Martial dengan tak layak. Martial merupakan satu dari sekian banyak prospek terpanas di dalam sepak bola modern serta memiliki seluruh kemampuan untuk jadi superstar namun telah diperlakukan dengan negatif. Paul Pogba, yang baru-baru ini jadi primadona Prancis di Piala Dunia jua sudah diperlakukan dengan negatif oleh Mourinho.

Lukaku pun melalui Piala Dunia yang amat baik, dan malahan cemerlang menjadi winger namun menderita di United. David De Gea tengah didekati oleh Real Madrid, dan apabila mereka tidak berhasil mendapat Thibaut Courtois, Los Blancos bakal berupaya mendapat De Gea lagi. menurut blog ini, Apabila De Gea angkat kaki, ini bakal jadi mala petaka untuk United.

Mourinho tidak berhasil mengeluarkan kualitas paling baik dari anak asuhnya dan rasa-rasanya ia telah kehilangan kemampuannya.

Tolak Chelsea, Pickford Memiliki Incaran Khusus di Everton

Mendapat tawaran untuk bertanding di tim seperti Chelsea tidak membikin Jordan Pickford berpaling. Pickford masih setia di Everton serta mengusung incaran khusus di Premier League kampanye musim 2018/19 ini.

Pickford tampil baik sepanjang Piala Dunia 2018 bareng tim nasional Inggris. Dia juga sering disebut-sebut menjadi penghapus dahaga penjaga gawang berpotensi Inggris. Nama Pickford juga menjadi rebutan beberapa tim pada bursa transfer.

Laporan paling kencang merupakan Pickford menjadi incaran utama Chelsea. The Blues mau menandatangani penjaga gawang berumur 24 tahun menuju Stamford Bridge guna sebagai pengganti peran Thibaut Courtois yang diburu Real Madrid.

Namun, Pickford memutuskan tinggal di Everton pada kampanye musim 2018/19. Ia juga percaya pilihannya telah bagus serta akan mengusung incaran khusus bareng dengan The Toffes.

Pickford benar-benar percaya jika Everton merupakan kesebelasan yang kompetitif di Premier League pada kampanye musim ini. Walau trofi bakal sukar dikejar, Pickford percaya Everton dapat kompetitif setidak-tidaknya untuk tempat 6 besar.

“Premier League merupakan turnamen yang sukar, menghadapi kesebelasan mana juga. Namun, rombongan saya mau membikin suporter girang dan cara yang ideal untuk mengerjakannya merupakan menang,” tutur Pickford yang kami baca di sini.

“Everton merupakan kesebelasan amat besar serta tim berjalan menuju arah yang benar. Rombongan saya mau berbuat setingkat lebih bagus. Team saya ada di posisi ke 8 musim kemarin dan mau ada di tempat ke 6 pada kampanye musim ini,” cetus Pickford.

Guardiola Enggak Sabar Kepingin Mencari Ilmu dari Sarri

Guardiola Enggak Sabar Kepingin Mencari Ilmu dari Sarri

Guardiola Enggak Sabar Kepingin Mencari Ilmu dari Sarri – Perseteruan antar kesebelasan rupanya enggak bertindak sebagai penghalang berarti buat manajer Manchester City, Josep Guardiola, untuk melayangkan sambutan hangat terhadap Maurizio Sarri. Dirinya sampai-sampai mengklaim kepingin mencari ilmu dari nahkoda terbaru Chelsea ini.

Sarri mulai mencuri kepedulian publik dengan gagasan rencananya untuk satu diantara sejumlah kesebelasan terbesar Italia, Napoli. Gara-gara tangan dinginnya, Il Partenopei mampu menyelesaikan kompetisi musim dengan status peringkat ke 2 Serie A.

Guardiola sudah menonton dengan langsung gagasan rencana Sarri waktu Manchester City bersua Napoli di Liga Champions musim sebelumnya. Walau mampu memenangkan pertandingan, tetapi laki-laki berkewarganegaraan Spanyol ini senantiasa menilai Napoli jadi satu diantara sejumlah skuat paling hebat di Eropa.

Di kompetisi musim ini, pertemuan Guardiola dan Sarri bakalan tercipta sedikit lebih sering di Premier League. Lantaran, laki-laki menginjak usia 59 tahun tersebut belum lama ini dinobatkan jadi suksesor Antonio Conte di bangku kepelatihan The Blues.

Guardiola jua menyambut positif keberadaan mantan pelatih Empoli ini. Dirinya sampai-sampai mengungkapkan telah enggak sabar untuk cari rahasia ramuan Sarri di tiap akhir pekannya.

“Saya bahagia manajer dengan kelas seperti dia terdapat di Premier League. Saya kepingin mencari ilmu banyak dan menontonnya tiap akhir weekend,” kata Guardiola didalam konferensi pers, ditulis dari Goal.

“Saya rasa team saya bakalan membaik jauh lantaran rencananya di Inggris, ” tandasnya.

Guardiola pun juga mengklaim sempat mengetahui penampilan Chelsea dibawah Sarri saat bersua Inter dan Arsenal di International Champions Cup. Dirinya memberi pujian bintang-bintangnya lantaran sudah mampu melakukan adaptasi dengan gaya permainan sang manajer.